
Sebuah layanan pijat plus-plus menjadi pilihan andalan dari sebuah club. Wanita-wanitanya diperkenalkan dengan para tamu secara ramah di sebuah lounge mungil yang dilengkapi bar. Jangka waktu session beda hitungannya dengan session di club lain, lebih lama. Dan selama ini jemari-jemari lentik bergerak inci demi inci di area sensitif, tanpa menyentuh bagian bagian tubuh lain sang tamu.
Lounge itu tak terlalu luas, tapi mewah. Warna wallpaper-nya didominasi warna pink. Di salah satu sudutnya ada sebuah bar mungil, lengkap dengan meja bartender berbentuk tapal kuda. Sementara kursi tamu di meja bartender cuma ada lima buah. Tapi cuma ada dua tamu yang duduk disitu, selebihnya diisi oleh wanita-wanita cantik dan sexy. Suara musik instrumental ‘Speak Softly’ mengalun rengang-rengang.Di belakang meja bartender ada tiga cewek cantik, tanpa seragam. Dandanan dan make up ketiga cewek sederhana saja. Mereka sibuk melayani tamu-tamu yang memesan minuman atau makanan ringan melalui wanita-wanita cantik yang kemudian mengantar ke para tamu yang memesan yang berada tak jauh dari meja bar.
Sebuah layar televisi ukuran raksasa menempel di dinding lounge, menghadap ke bar. Dilayar itu sebuah big match sepakbola dunia antara club raksasa Inggris, Liverpool melawan Chelsea sedang berhadapan. Tamu yang seratus persen lelaki nampak sebagian besar pandangannya ke pertandingan sepakbola tersebut.
Ada yang sambil menikmati minuman dan makanan ringan. Ada yang sambil bercanda dengan wanita-wanita cantik. Ada yang sambil direfleksi, duduk disebuah kursi khusus. Secara keseluruhan ruangan itu tak terlalu hiruk pikuk. Cozy dan enjoy.
Itulah sepenggal ilustrasi sebuah lounge di club Jakarta Selatan. Suasana seperti itu mulai siang sekitar jam 12 hingga tengah malam. Tak terlalu hiruk pikuk sebagaimana suasana lounge pada umumnya. Mungkin karena lounge tersebut tak terlalu besar.
Di lounge itu, para tamu yang terdiri dari lelaki adalah pemburu hiburan malam plus-plus. Dan wanita- wanitanya adalah penghibur di club ini. Mereka sengaja dibiarkan membaur dengan para tamu.
Sambil memesan minuman dari bar mungil yang teronggok di sudut lounge, para tamu mencoba berkenalan secara face to face dengan wanita-wanita penghibur yang berusia antara 19 hingga 25 tahunan. Mereka nampaknya sengaja di training sebagai wanita yang tak terlalu merajuk kepada tamu sebagaimana yang banyak ditemui pada wanita-wanita penghibur club-club malam. Tapi mereka juga tak jual mahal.
“Kami sengaja dianjurkan untuk sopan santun kepada tamu. Dalam artian, tidak terlalu memaksa tamu kencan. Tapi kami juga harus ramah. Intinya kami harus seperti wanita-wanita biasa. Baru nanti kalau sudah di kamar, kami akan memberi servis panas dingin.. he.. he..he..,” tutur Angel (bukan nama sebenarnya), salah seorang wanita penghibur club tersebut, yang berasal dari Subang Jawa Barat.
‘Servis Panas Dingin’ yang dimaksud oleh Angel adalah layanan pijat di ‘area pusat kenikmatan’ pada tubuh sang tamu. Sebelum sang tamu masuk ke kamar yang disediakan, tamu harus terlebih dulu memutuskan mau dipijat seperti apa. Disini ada pijat shiatsu, body massage yang memang sudah dikenal luas. Dan yang terakhir adalah pijat di ‘pusat area kenikmatan’, yaitu area pertemuan antara dua ujung pangkal paha.
0 komentar:
Poskan Komentar